SKIZOFRENIA
Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai. Menurut Kreaepelin gangguan ini disebut demansia prekox, yang dalam perjalanannya memperlihatkan adanya deteriosasi atau merupakan penyakit terjadinya kemunduran inteligasi sebelum waktunya.
Epidemiologi
Prevalensi skizofrenia sama antara laki-laki dan perempuan. Namun, dalam onset kedua jenis kelamin ini berbeda, laki-laki memiliki onset yang lebih awal daripada wanita. Usia puncak untuk laki-laki adalah 15-25 tahun, sedangkan untuk wanita usia puncaknya adalah 25-35 tahun. Kira-kira 90 % pasien skizofrenia adalah antara usia 15 dan 55 tahun. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa laki-laki lebih mungkin daripada wanita untuk terganggu oleh gejala negative dan bahwa wanita lebih mungkin memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada laki-laki. Pada umumnya, hasil akhir untuk pasien skizofrenia wanita adalah lebih baik daripada hasil akhir untuk pasien skizofrenia laki-laki.
Etiologi
- Faktor biologis
Penyebab skizofrenia tidak diketahui. Tetapi banyak penelitian yang telah melibatkan peran patofisiologi untuk untuk daerah tertentu di otak, termasuk system limbic, korteks frontalis, dan ganglia basalis. Ketiga daerah itu berhubungan, sehingga bila salah satu saja mengalami disfungsi, mungkin melibatkan patologi primer didaerah lainnya. Thalamus dan batang otak juga terlibat karena peranan thalamus sebagai pengintegrasi dan kenyataan bahwa batang otak dan otak tengah adalah lokasi utama bagi neuron aminergik asenden.
- Hipotesis dopamine
Rumusan paling sederhana adalah peningkatan aktivitas dopaminergik yang terlalu banyak dapat menyebabkan skizofrenia. Teori tersebut timbul dari dua pengamatan, yang pertama adalah kecuali clozapine, khasiat dan potensi antipsikotik adalah berhubungan dengan kemampuannya bertindak sebagai antagonis reseptor dopaminergik tipe 2 (D2). Kedua, obat-obatan yang meningkatkan aktifitas dopaminergik, sebagi contohnya adalah amfetamin, merupakan salah satu psikotomimetik.
- Neurotransmitter lainnya
Walaupun dopamine merupakan neurotransmitter yang mendapat perhatian yang besar dalam penelitian skizofrenia, menigkatnya perhatian juga ditujukan pada neurotransmitter lainnya, contohnya serotonin, norepinefrin, dan GABA.
- Psikoneuroimunologi
Sejumlah kelainan imunologi pada pasien skizofrenia telah dihubungkan dengan pasien skizofrenik. Kelainan tersebut adalah penurunan produksi IL-2 sel T, penurunan jumlah dan responsifitas limfosit perifer, kelainan pada reaktivitas selular dan humoral terhadap neuron, dan adanya autoantibody terhadap otak. Kemungkinan adanya autoantibody itu disebabkan oleh infeksi virus neurotoksik.
- Psikoneuroendokrinologi
Banyak laporan yang menggambarkan perbedaan neuroendokrin antara kelompok pasien skizofrenia dengan control normal. Beberapa data menunjukkan penurunan konsentrasi LH/FSH, kemungkinan dihubugkan dengan onsetusia dan lamanya penyakit. Dua kelainan tambahan adalah pengumpulan pelepasan prolaktin dan hormone pertumbuhan terhadap stimulasi GnRH atau TRH.
- Genetika
Penelitian klasik awal skizofrenia tentang keterkaitan genetika dilakukan di tahun 1930-an, menemukan bahwa seseorang kemungkinan menderita skizofrenia bila ada anggota keluarganya yang juga menderita skizofrenia. Kembar monozigot memiliki angka kesesuaian yang tinggi.
- Faktor psikososial
Skizofrenia dianggap sebagai suatu gangguan fungsional dan penyebab utama adalah konflik, stress psikologik dan hubungan antar manusia yang mengecewakan.
A. Gejala- gejala
Gejala primer
v Ganguan proses fikir
Pada skizofrenia inti gangguan memang terdapat pada proses pikiran. Yang terutama ialah asosiasi. Kadang –kadang satu idea belum selesai diutarakan, sudah timbul idea lain.atau pemindahan maksud, umpanya maksudnya tani tetapi dikatakan sawah. Tidak jarang juga menggunakan simbolik, seperti merah bila dimaksud berani.atau pikiran yang tidak mempunyai tujuan yang tertentu atau sukar dan tidak dapat diikuti dan dimenggerti. Dan seorang yang menderita skizofrenia mempunyai kecenderungan untuk menyamakan hal-hal yang ada disekitarnya, kadang- kadang pemikirannya seakan-akan berhenti,tidak timbul lagi idea(bloking) biasanya berlangsung beberapa detik saja kadang-kadang ampai beberapa hari.
v Gangguan efek dan emosi
· Kedangkalan afek dan emosi() menjadi acuh tak acuh terhadap hal-hal yang penting untuk dirinya seperti keadaan keluarga masa depannya.
· Parathimi: apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira pada penderita timbul rasa sedih dan marah
· Paramimi: penderita merasa senang dan gembira , tetapi menanggis
· Kadang- kadang emosi dan afeknya serta expresinya tidak mempunyai kesatuan
· Emosi yang berlebihan, sehingga kelihatan dibuat- buat
· Hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi dengan baik
· Karena terpecah-belahnya kepribadian, maka ada dua hal yang berlawnan mungkin terdapat bersama, sama umpamanya mencintai dan membenci satu orang yang sama: atau menangis dan tertawa tentang sustu hal yang sama, atau disebut ambivalensi pada afek
v Gangguan kemauan
· Tidak dapt mengambil keputusan dan bertindak dalam suatu keadaan
§ kadang- kadang penderita melamun berhari-hari atau berbulan-bulan
§ Negative: sikap atau perbuatan yang negatif atau berlawanan terhadap suatu permintaan
§ Ambivalensi kemauan : menghendaki dua hal yang berlawanan pada waktu yag sama umpamanya tanggan diulurkan untuk berjabat jangan tapi belum sampai tangannya udah diterik kembali
§ Otomatisme: penderita merasa kemauannya dipengaruhi oleh orang lain atau oleh tenaga dari luar, sehingga melakukan sesuatu secara otomatis.
v Gangguan psikomotor
Juga dinamakan gejala katatonik atau gangguan perbuatan. Sebetulnya gejala katatonik sering mencerminkan gangguan kemauan.bila gangguan ringan maka terdapat adanya gerakan-gerakan yang kurang luwes atau agak kaku. Sedangkan keadaan stupor tidak menunjukan adanya gerakan.
· mutisme dapat disebabkan oleh waham , ada yang melarang penderita untuk berbicara
· hiperkinesa : terus bergerak dengan gelisah
· Logorea : terus menerus berbicara tanpa henti
· Stereotipi : berulang- ulang melakukan tindakan dan sikap misalmya menaik –narik rambutnya stereotipi pembicaraan ( kata atau kalimat yang diulang-ulangi) disebut verbigerasi
· Katalepsi : suatu posisi badan yang dipertahankan untuk yang lama
· Flexsibilitas cerea : bila anggota badan dibeangkokan terasa ada suatu tahanan seperti lilin
· Negative : menentang atau melakukan perlawanan dengan apa yang disuruh
Gejala sekunder
v Waham
Waham pada penderita skizofrenia sering kali tidak logis dan bizar. Tetapi penderiaa tidak menginsafi hal ini dan untuk dia wahamnya merupakan fakta dan tidak dapat diubah oleh siapapun misalanya penderita berwaham sebagai sseorang raja. Menurut Mayer Gross, waham ada 2 yaitu:
· Waham primer: Timbul secara secara tidak logis tanpa penyebab apa-apa
· Waham sekunder : secara logis
v Halusinasi
Halusinasi timbul tanpa adanya penurunan kesadaran , biasanya halusinasi pendengaran ( oditif atau akistik ) dalam bentuk suara manusia, bunyi barang-barang ataupun siulan halusinasi dan terdapat juga halisinasi penciuman, halisinasi citrarasa dan halusinasi taktil.
B. Pembagian skizofrenia
§ Skizofrenia komplex
Timbul pada masa puber, gejala berupa kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan, gejala timbul perlahan-lahan, awalnya berupa kurang perhatian terhadap keluarga, menarik diri dari pergaulan, dan lama kelamaan semakin mundur
§ Jenis heberenik/hebefrenia/bebefrenik
Merupakan skizifrenia sub akut yang timbul pada masa remaja yaitu antara umur 15-25 tahun. Gejala nya berupa ganguan proses berpikir, ganguan kemauan dan adanya depersonalisasi, ganguan psikomotor berupa mannerism, neologisme/kekanak kanakan, waham dan halusinasi
§ Jenis katatonik
Biasa terjadi pada usia 15-30 tahun, merupakan skizofrenia akut yang didahului oleh stres emosional. Skizofrenia katatonik ini terdiri dari 2 jenis yaitu
1. Stupor katatonik
Gejalanya berupa tidak adanya perhatian terhadap lingkungan, emosi dangkal, mutisme, tanpa mimik atau seperti topeng, stupor (tidak bergerak dalam waktu lama), negativisme, makanan ditolak, air ludah meleleh, urin dan feses ditahan, terdapat grimas dan katalepsi.
2. Gaduh gelisah katatonik
Terdapat hiperreaktivitas motorik tanpa emosi yang semestinya. Menunjukkan adanya stereotipi, manerisme, grimas dan neologisme.
§ Jenis paranoid
Pada skizofrenia jenis paranoid gejala yang mencolok adalah adanya waham primer dan disertai dengan waham sekunder dan halusinasi. Gejala lainnya berupa ganguan proses berpikir, ganguan afek, emosi, dan kemauan. Skizifrenia ini sering muncul setelah usia 30 tahun.
§ Episode skizofrenia akut
Gejala timbul mendadak dan pasien seperti dalam keadaan mimpi, kesadarannya mungkin berkabut, timbul perasaan seakan-akan dunia luar dan dirinya berubah, prognosanya cenderung baik.
§ Skizofrenia residual
Merupakan keadaan skizifrenia dengan gejala-gejala primer tetapi gejala sekundernya tidak jelas. Timbul setelah beberapa kali serangan skizifrenia
§ Jenis skizo-afektif
Selain adanya gejala skizofrenia terdapat pula gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania. Jenis ini cenderung sembuh tanpa defek tetapi mungkin juga timbul lagi serangan. Gejala mania nya berupa : gangguan emosi yaitu penderita merasa senang dan optimistik, aktivitas yang berlebihan yaitu penderita menjadi sangat gelisah, menghamburkan uang, terus-terusan bernyanyi atau berbicara, merobek pakaiannya, dan gangguan proses berpikir yaitu arus pikir penderita menjadi cepat, pikiran melayang, asosiasi bunyi, halusinasi jarang, lebih sering ilusi, sering terdapat waham kebesaran. Gejala depresinya berupa gangguan emosi yaitu penderita tampak lelah dan khawatir, penghambatan aktivita, ganguan proses berpikir dan keluhan badaniah yaitu berupa rasa lelah, persaan tertekan pada kepala dan dada, sulit tidur, nafsu makan berkurang dan obstipasi, pada wanita haidnya terganggu dan pada pria terjadi impotensi.
C. Diagnosis dan diagnosis banding
§ Menurut Bleuler : Didiagnosa skizofrenia apabila terdapat gangguan primer dan disharmoni( keretakkan, ketidakseimbangan atau perpecahan) pada unsur-unsur kepribadian serta adanya gejala sekunder.
§ Menurut Schneider : Didiagnosa skizofrenia bila terdapat satu gejala dari kelompok A dan kelompok B
A Halusinai pendengaran
B Gangguan batas ego
§ Menurut Kusumanto Setyonego : diagnosis skizofrenia dengan 3 buah gejala-gejala koordinat
Kordinat pertama( intinya organobiologik)
· Otisme
· Gangguan afek dan emosi
· Gangguan asosiasi( proses berpikir)
· Gangguan aktivitas dan ganggua kosentrasi
Koorditat kedua ( intinya psikologik):
· Gangguan pada cara berpikir yang tidak sesuai dengan kepribadian
· Memperhatikan ego
· Sistemik motivasi dan psikodinamika dalam interksi dengan lingkungan
Koordinat ketiga( intinya sosial):
· Gangguan pada kehidupan sosial
D. Prognosa
Tergantung pengobatan yang dilakukan, apabila panderita sskizofrenia datang pada berobat dalam tahun pertam setelah kira-kira sepertiga darinya akan sembuh sama sekali.sepertiga lagi dapat dikembalikan ke lingkungkuan masyarakat walaupun masih terdapat cacat sedikit namun harus sering diperiksa dan diobati selanjutnya, dan yang lainnya prognosisnya jelek( tidak dapat bersosialisasi pada lingkungan masyarakat menuju kemunduran mental )
E. Pengobatan
Farmakologi
· Neoroleptika :bermanfaat bagi penderita skizofrenia menahun dengan dosis tinggi, diberikan dalam waktu tidak ditentukan lamanya dengan dosis yang naik-turun tergantung keadaan pasien
· Trifluoperasin : bermanfaat jika diberikan pada penderita paranoid
· Fenotonon : bermanfaat jika terdapat waham dan halusinasi biasanya hilang dalam waktu 2-3 minggu
Terapi elektro-konvusi(TEK)
Terapi ini, cara kerjanya elektrokonvulsi belum diketahui secara jalas, dapat dikatakan memperpendek serangan skizofernia dan mempermudah kontak dengan pasien, biayanya
lebih murah dan tidak memerlukan tenaga khusus teapi terapi ini tidak dapat mencegah terjadinya seranggan
Terapi koma insulin
Hasilnya memuaskan pada pada permulaan penyakit. Presentasi kesembuhan lebih besar bila dimulai dalam waktu 6 bulan sesudah penderita jatuh sakit
Psikoterapi dan rehabilitasi
Dengan terapi psikoterapi suportif ataupun denagn kelompok, serta dengan bimbingan yang peraktis dengan maksud mengembalikan penderita ke masyarakat, yaitu:
· Mendorong penderita bergaul dengan orang lain, penderita lain, perawat ataupun docter
· Mengadakan permaianan atau latiahan bersama
· Melakukan aktifitas yang disukai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar